Hibridasi Budaya

Posted On 2017-01-19 04:52:13 by Bella Relegia

Strategi Kreatif Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015

Sebulan lagi kita akan memasuki tahun 2015 yang telah disepakati sebagai awal dimulainya Masyarakat Ekonomi Asean. Negara-negara anggota ASEAN telah meratifikasi Piagam ASEAN pada KTT ASEAN ke-14 di Thailand tahun 2008. Tiga pilar ASEAN Community yang meliputi ASEAN Economic Community, ASEAN Security Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community akan segera diimplementasikan. ASEAN Socio-Cultural Community Blueprint (ASCCB) dimaksudkan untuk membawa ASEAN lebih dekat dengan masyarakatnya, lebih melibatkan masyarakat negara-negara anggota dalam berbagai program kegiatan ASEAN sehingga pada masa mendatang ASEAN bukan lagi hanya didominasi oleh kalangan pejabat pemerintah dan diplomat. (Yani, 2008)

Fokus MEA 2015 meliputi : Asia Tenggara sebagai kesatuan pasar dan produksi; MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi; MEA akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata dengan prioritas UKM; MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. (Baskoro, 2014: al. 2-5) Komunitas ASEAN dengan demikian menjadi bagian dari komunitas global sehingga segala hal yang berkaitan kepentingan ASEAN tidak dapat dipisahkan dari fenomena globalisasi.

aec-new-new

Masyarakat Indonesia sebagai bagian dari komunitas ASEAN dengan sendirinya menjadi bagian dari sistem globalisasi. Globalisasi yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pola pikir dan tindakan masyarakat global dapat ditanggapi secara positif. Efek globalisasi terhadap keberadaan budaya lokal atau budaya etnik ditanggapi secara beragam. Yang pertama menganggap bahwa globalisasi akan menyebabkan homogenisasi dan menghilangkan budaya lokal. Kedua, globalisasi memunculkan hibridisasi budaya antara budaya lokal dan budaya global. Ketiga, globalisasi menimbulkan konflik budaya. Kehilangan identitas atau konflik budaya demi mempertahankan identitas budaya dalam menghadapi ekonomi dan budaya global bukanlah pilihan yang bijak. Dialog antar budaya dalam mayarakat global merupakan sebuah keniscayan. Hibridisasi budaya merupakan fenomena global yang terjadi di berbagai kawasan terutama negara-negara bekas jajahan Barat.

Asia Tenggara adalah kawasan strategis yang memiliki kesamaan sejarah. Kawasan ini menjadi perlintasan budaya-budaya besar seperti India, Cina, Arab, dan Eropa. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara telah lama menjadi tempat pertemuan antara budaya lokal dengan budaya-budaya besar tersebut. Persilangan budaya yang terjadi di kawasan Asia Tenggara bisa menjadi modal dalam menghadapi MEA yang terintegrasi dengan ekonomi global.

Hibridisasi budaya melalui akulturasi telah lama terjadi di kawasan Asia Tenggara. Globalisasi lebih mempercepat dan memperluas kontak budaya antara “pusat dan pinggiran”. Jika budaya-budaya besar dianggap sebagai pusat-pusat budaya, maka negara-negara di kawasan Asia Tenggara bisa dianggap pinggiran. Abad ke-21 dipandang sebagai abad Asia sehingga sejak akhir abad ke-20 telah muncul kekuatan baru di Asia yaitu Jepang dan Korea Selatan. Jepang dan Korea tidak hanya maju di bidang teknologi otomotif dan elektronik, mereka juga maju di bidang industri kreatif. Masyarakat di kawasn Asia Tenggara menjadi konsumen budaya Jepang dan Korea Selatan.

Industri kreatif memiliki posisi strategis dalam menghadapi MEA 2015, karena produk kreatif terutama yang berbasis elektronik paling mudah disebarluaskan melalui media elektronik. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan Asia Tenggara menjadi pasar yang potensial bagi pemasaran produk kreatif global. Masyarakat Indonesia juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi pelaku industri kreatif. Kaum intelektual bersama dengan para pengusaha dan pemerintah merupakan Triple Helix yang secara bersama-sama perlu membangun fondasi industri kreatif nasional yang kuat. Jika kebersamaan ketiga unsur itu tidak segera dilakukan maka Indonesia hanya akan menjadi objek dari industri kreatif global.

Makalah ini membahas tentang globalisasi dan hibridisasi, hibridisasi dalam, sejarah kebudayaan Asia Tenggara, hibridisasi sebagai strategi kreatif hadapi MEA 2015, dan hibridisasi dalam seni rupa kontemporer.

Globalisasi dan Hibridisasi

Globalisasi ialah proses di mana orang-orang atau masyarakat se dunia bergabung menjadi satu masyarakat dunia, yaitu masyarakat global. Globalisasi menggabungkan unsur-unsur budaya dari berbagai sumber dan menyebabkan terjadinya pencairan budaya. Globalisasi adalah koneksi global ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang semakin menuju ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global.(Barker, 2004:405)

Kebanyakan dari proses globalisasi memiliki karakter ekonomi seperti dapat dilihat pada produk-produk global yang disebarkan melalui sistem franchise. Globalisasi bukan hanya persoalan ekonomi, namun juga terkait dengan isu makna budaya. Nilai-nilai dan makna yang melekat pada suatu tempat masih tetap berarti. Masyarakat semakin terjerat ke dalam jaringan yang meluas jauh ke luar lokasi fisik mereka. Proses globalisasi ditandai dengan integrasi budaya lokal ke dalam suatu tatanan global. Nilai-nilai kebudayaan luar menjadi basis dalam pembentukan subkebudayaan yang berdiri sendiri dengan kebebasan-kebebasan ekspreasi. (Abdullah, 2010: 192)

Globalisasi adalah proses yang kompleks karena melibatkan perubahan sosial yang cepat yang terjadi secara bersamaan di sejumlah dimensi – dalam perekonomian dunia, politik, komunikasi, dalam lingkungan fisik dan budaya – dan masing-masing transformasi ini berinteraksi dengan lainnya.(Tomlinson, 2007: 148-168). Globalisasi budaya telah menciptakan suatu ruang kebudayaan, yang di dalamnya berlangsung, di satu pihak, penyeragaman, homogenisasi dan imperialisme budaya; di pihak lain, persilangan, pertukaran dan pengkayaan budaya yang sangat kompleks. (Piliang, 2009: 75-91)

Globalisasi kapitalisme konsumen menimbulkan hilangnya keragaman budaya merupakan tesis yang dibangun oleh pendukung homogenisasi budaya. Tesis ini menekankan pertumbuhan “kesamaan” dan dugaan akan hilangnya otonomi budaya yang dikonsepsikan sebagai bentuk imperialisme budaya. Argumentasi ini berkisar antara dominasi suatu kebudayaan atas kebudayaan yang lain. Imperialisme budaya sebagai akibat globalisasi sulit diterima karena arus global wacana budaya bukan arus satu arah. Meskipun arus budaya berawal dari Barat ke Timur dan dari Utara ke Selatan, bukan berarti sebuah bentuk dominasi. Apakah globalisasi merupakan proses homogenisasi, karena proses fragmentasi dan hibriditas sama-sama kuat?

Hibriditas adalah tema penting dalam hal ini merupakan salah satu dari tiga besar pendekatan untuk globalisasi dan budaya. Salah satunya adalah gagasan bahwa budaya global adalah menjadi semakin standar dan seragam (seperti dalam McDonaldization); kedua adalah gagasan bahwa globalisasi melibatkan ‘benturan peradaban’; dan ketiga adalah globalisasi sebagai hibridisasi atau gagasan bahwa globalisasi menghasilkan kombinasi baru dan campuran. Pandangan hibriditas menyatakan bahwa pengalaman budaya masa lalu dan sekarang belum pernah bergerak ke arah sinkronisasi budaya.(Pieterse,2006, 2)

Bachhtin (1981: 358) menyatakan bahwa hibridisasi adalah percampuran dari dua bahasa, pertemuan antara dua kesadaran linguistik yang berbeda. Hibriditas ketidaksadaran organik adalah ciri dari evolusi historis dari semua bahasa. Penerapannya dalam budaya pada umumnya dapat dikatakan bahwa meskipun terdapat keterbatasan ilusi, budaya berkembang secara historis melalui peminjaman, peniruan, pertukaran, dan penemuan tanpa pikir. Tidak ada budaya dalam dan dari dirinya sendiri (Webner, 1997: 4).

Hibridisasi adalah proses penciptaan atau replikasi bentuk-bentuk mutan melalui perkawinan silang yang menghasilkan entitas campuran yang tidak lagi utuh, meskipun di dalamnya masih tersisa sebagian identitas diri dari dua unsur yang dikawinsilangkan. Hibridisasi adalah proses parasitisme di dalam sebuah sistem yang di dalamnya sebuah entitas dijadikan tempat hidup oleh entitas-entitas lain, yang dapat menghancurkan identitas dan keberbedaan keduanya, meskipun ia dapat membangun identitas dan perbedaan-perbedaan baru. (Piliang, 2008: 368)

Konsep hibridisasi merupakan konsep kunci kritisisme budaya dalam kajian poskolonial, dalam debat-debat kontestasi dan apropriasi budaya, dan dalam hubungannya dengan konsep batas dan ideal dari kosmopolitan.(Coombes dan Brah, 2005: 1) Fungsi dari hibridisasi antara lain adalah menaruh perhatian pada campuran dari fenomena yang berbeda, dan terpisah; hibridisasi kemudian menunjuk pada proses lintas-kategori. Fungsi hibridisasi berikutnya adalah sebagai bagian dari hubungan kuasa antara pusat dan pinggir, hegemoni dan minoritas, dan mengindikasikan pada pengaburan, destabilisasi atau subversi dari hubungan hirarkis tersebut.

Hibriditas kebudayaan Indonesia ditentukan oleh masa lalu bangsa ini yang berhasrat mengikuti perkembangan masa kini, dan masa kini yang tak mau lepas dari kehangatan masa lalu. Dengan kata lain, sebuah kebudayaan  tak dapat mengklaim dirinya sebagai otentik (asli), karena pada kenyataannya, benak seseorang dibentuk dalam sejarah dan seseorang itu juga menentukan sebuah sejarah.( Sukristiono, 2011, al. 13) Retorika tentang hibriditas, secara fundamental terkait dengan munculnya wacana pasca-kolonial dan kritiknya terhadap imperialisme budaya. Ini adalah tahap kedua dalam sejarah hibriditas, ditandai dengan sastra dan teori yang mempelajari efek dari campuran (hibriditas) pada identitas dan budaya.

Dalam perkembangan teori hibriditas, teks kunci yang digunakan  adalah The Location of Culture (1994), oleh Homi Bhabha, dimana liminalitas hibriditas disajikan sebagai paradigma kecemasan kolonial (Bhabha, 1994). Pada mulanya perkembangan teori hibriditas ditujukan pada narasi imperialisme budaya. Karya Bhabha juga memahami politik budaya pada kondisi menjadi “seorang migran” di kota metropolitan kontemporer. Namun, hibriditas tidak lagi semata-mata terkait dengan populasi migran dan dengan kota-kota perbatasan, ini juga berlaku secara kontekstual pada aliran budaya dan interaksi mereka.

Kritik bahwa hibriditas budaya imperialis berarti bahwa retorika hibriditas berkembang menjadi tantangan terhadap esensialisme, dan diterapkan untuk teori-teori sosiologis identitas, multikulturalisme, dan rasisme. Salah satu wujud dari esensialisme adalah rasisme biologis yang pada saat ini sudah tidak relevan lagi. Rasisme pada saat ini masih terdapat dalam bentuk rasisme budaya. Rasisme budaya dapat dicirikan oleh keyakinan bahwa satu ras secara inheren unggul dari yang lain, rasisme budaya dapat dicirikan oleh keyakinan bahwa salah satu budaya inheren unggul dari yang lain.(Blaut, 1992: 289-299)

Untuk menghadapi rasisme budaya sebagai bentuk esensialisme, Bhabha menawarkan konsep mimikri sebagai proses hibridisasi. Wacana mimikri dibangun sekitar ambivalensi; agar efektif, mimikri secara berkesinambungan harus menghasilkan kelicinannya, kelebihannya, perbedaannya. Mode wacana kolonial yang disebut mimikri oleh karena itu dilanda oleh ketidakpastian: mimikri muncul sebagai representasi dari perbedaan yang merupakan proses penyangkalan. Mimikri, dengan demikian adalah tanda artikulasi ganda; strategi kompleks reformasi, peraturan dan disiplin, yang “merampas”  kekuatan visualisasi seperti yang Lain. Mimikri juga merupakan tanda yang tidak pantas, namun, perbedaan atau kekeraskepalaan yang memadukan fungsi strategis yang dominan dari kekuasaan kolonial, mengintensifkan pengawasan, dan merupakan ancaman imanen baik pengetahuan ‘normal’ dan kekuatan disipliner.(Bhabha, 1994: 85-92)

Bhabha mengembangkan gagasan ini dengan menyatakan bahwa mimikri adalah proses penulisan ulang identitas terjajah di ruang ketiga, yaitu dengan menjadi hibrida, sebagai cara mendekonstruksi wacana penjajah. Penyesuaian diri dengan identitas penjajah justru dimaksudkan untuk memalingkan wajah dari kuasa penjajahan itu. Ini adalah strategi bertahan hidup yang sekaligus berupaya melawan penjajahan. Ambivalensi  memastikan keragaman ekspresi identitas dan budaya, selama masih selalu terdapat upaya dominasi budaya dan penentuan mutlak atas suatu identitas maka mimikri, hibriditas dan sikap ambivalensi akan selalu muncul, sebagai penolakan terhadap dominasi.

Hibridisasi merupakan strategi bangsa-bangsa poskolonial dalam menghadapi homogenisasi budaya global yang telah menyebarluas ke seluruh penjuru dunia. Para pelaku budaya khususnya industri budaya kreatif di Asia Tenggara dengan kemampuannya masing-masing telah berusaha terus-menerus untuk melakukan segala cara agar produk-produk budaya mereka tetap bisa hidup.

Hibridisasi dalam Sejarah Budaya Asia Tenggara

Silang budaya adalah fenomena yang biasa terjadi  dalam sejarah budaya di semua kawasan budaya. Asia Tenggara sebagai kawsan strategis di Asia menjadi perlintasan budaya-budaya besar seperti India, Cina, Arab, dan Eropa. Budaya Cina dan India sudah lama berpengaruh di Asia Tenggara. Sejak menyebarnya budaya Dongson di sebagian wilayah Asia Tenggara, Cina sudah menampakkan pengaruh kuat terutama dalam seni perunggu dan gerabah (Groslier, 2002: 59-67). Pengaruh budaya di Cina di kawasan  Asia Tenggara terus menguat pada abad-abad berikutnya. Di Indonesia peran orang-orang Cina dalam membentuk keragaman budaya cukup signifikan. Lombard (2005: 243) menyatakan bahwa pengaruh Cina dalam sejarah budaya Indonesia tampak mendalam dan membangun.

Pengaruh India di kawasan Asia Tenggara yang telah berlangsung selama berabad-abad dan memiliki dampak yang cukup mendalam seperti pengaruh Cina. Di Indonesia pengaruh India ini dapat dilihat dengan berdirinya beberapa kerajaan Hindu dan Budha seperti Mataram Kuna, Sriwijaya, Singasari, dan Majapahit. Para sarjana Barat seperti Raffles, Brandes, Kern, dan Stutterheim telah melakukan penelitian tentang pengaruh budaya India terhadap Nusantara khususnya Jawa. Karena kuatnya pengaruh budaya India sehingga para sarjana Barat itu menyebut proses budaya itu sebagai “Indianisasi”. Warisan India begitu kuatnya sehingga ada yang menyebutnya sebagai “penjajahan India” atau penjajahan oleh “bangsa Arya” dengan konotasi klasik dan positif sebagai perintis untuk penjajahan berikutnya.(Lombard, 2005:3-9)

Pengaruh Islam dalam budaya Indonesia dibawa oleh para pedagang Arab dan penyebar agama di wilayah pesisir. Masyarakat pesisir Nusantara yang terdiri dari kaum pedagang dan nelayan lebih dulu menerima pengaruh Islam. Sementara itu masyarakat di pedalaman yang berciri agraris baru menyusul kemudian terutama setelah keraton Jawa (Demak) dipindah ke pedalaman. Salah satu perubahan penting yang disebabkan oleh pengaruh Islam adalah perubahan mental orang Indonesia dari masyarakat hirarkis (Hindu) ke masyarakat egaliter (Islam).(Lombard, 2005: 149-242)

Penjajahan Indonesia oleh Belanda tidak merubah keyakinan sebagian besar masyarakat Indonesia karena penyebaran agama Kristen tidak berpengaruh besar pada masyarakat Indonesia di bagian barat. Masyarakat Indonesia bagian timur yang dulu tidak terkena pengaruh budaya Hindu kemudian menerima pengaruh Barat. Dalam budaya material pengaruh Belanda lebih mudah diterima di kalangan masyarakat Indonesia barat terutama di Jawa. Kebudayaan campuran antara masyarakat pribumi dengan masyarakat Belanda dan Eropa disebut budaya Indis. Gaya hidup campuran Jawa dengan Belanda ini diawali dengan perkawinan antara laki-laki Belanda dengan perempuan Jawa karena pada saat itu pegawai kolonial tidak boleh membawa istri (Soekiman, 2000:8 ). Proses persebaran dan penerimaan budaya Barat terhadap masyarakat pribumi oleh Lombard disebut sebagai proses Pembaratan. Golongan-golongan yang terpengaruh Barat adalah komunitas Kristen, para priyayi, tentara, dan akademisi (Lombard, 2005: 94-127).

Reaksi terhadap pengaruh-pengaruh asing yang masuk ke Indonesia disikapi secara beragam. Lombard menyebut ada dua reaksi yang ditunjukkan oleh masyarakat pribumi dalam menghadapi kuatnya pengaruh asing yaitu fanatisme dan toleransi. Fanatisme etnik, agama, dan budaya dapat menimbulkan konflik yang menyakitkan, sedangkan toleransi menjadikan masyarakat memperoleh pengalaman baru yang dapat memperkaya budaya yang sudah ada.

Masyarakat Asia Tenggara yang memiliki pengalaman sejarah yang relatif sama yaitu menerima pengaruh budaya Cina, India, dan Arab serta sama-sama mengalami kolonisasi oleh Barat, saat ini sama-sama menjadi negara berkembang yang tidak bisa menghindar dari pengaruh budaya global. Pengaruh budaya global yang diterima para anggota komunitas ASEAN relatif homogen. Produk-produk budaya kreatif yang dihasilkan oleh masyarakat ASEAN bukan berarti harus sama atau homogen. Para anggota komunitas ASEAN dapat berlomba memacu kreativitas tanpa harus meninggalkan identitas lokalnya. Hibridisasi yang berkarakter relasional, dialogis, dan toleran akan menjadi pilihan yang realistik daripada secara fanatik mempertahankan identitas esensialnya.

Hibridisasi Sebagai Strategi Menghadapi MEA 2005

Pariwisata merupakan sektor yang sangat penting bagi negara-negara berkembang, dan Asia Tenggara adalah salah satu yang terdaftar di antara tujuan utama pariwisata dunia. “Pariwisata Kreatif” memfasilitasi wisatawan untuk mendapatkan pengalaman otentik melalui keterlibatan dalam pembelajaran partisipatif dalam seni, budaya, warisan atau tempat dengan karakter khusus (Chairatana, 2012, al.1). Pendapat ini sejalan dengan cetak biru Masyarakat Ekonomi Asean yang telah membentuk Komunitas Asean yang terdiri dari tiga pilar ASEAN Community yang meliputi ASEAN Economic Community, ASEAN Security Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community (Yani, 2008).

Industri kreatif yang sudah dikampanyekan pemerintah sangat sesuai dengan konsep pariwisata kreatif yang sedang menjadi trend di dunia pariwisata. Industri kreatif akan menjadi salah satu andalan dalam menghadapi MEA 2015. Beberapa negara di kawasan Asean bekerjasama dengn berbagai badan dunia telah mulai menyiapkan diri menghadapi era pariwisata kreatif dengan membentuk jaringan “kota kreatif”, “kota warisan”, “kota desain”, “pusat sains” dan sebagainya. The British Council (UK) melalui projek The British Council Creative Cities Project sejak tahun 2008 telah meluncurkan kota-kota di Asean sebagai “Creative hub” yaitu Bandung (Indonesia) untuk kriya, Cebu City (Philipina) untuk mebel, dan Chiang Mai (Thailand) untuk perangkat lunak dan kriya (Chairatana, 2012, al.1).

Kota-kota kreatif yang memiliki warisan budaya tradisi yang kaya seperti Yogyakarta, Bali, dan Surakarta tetap penting sebagai kota tujuan wisata yang dapat mengembangkan pariwisata warisan budaya dan usaha dengan konsep nostalgia. Kota-kota yang selama ini belum masuk daftar sebagai destinasi wisata utama tetap memiliki peran penting untuk mendukung pariwisata kreatif dengan menggali, menemukan, dan atau merevitalisasi budaya yang sudah ada dengan kreasi-kreasi baru yang memiliki nilai komersial dan nilai estetik. Salah satu kota yang berhasil menjadi perhatian dunia adalah kota Jember dengan even Jember Fashion Carnival.

Tiap-tiap daerah biasanya memiliki tradisi upacara ritual yang berciri agraris maupun maritim yang dapat dihidupkan dengan interpretasi baru dan kemasan baru. Beberapa contoh yang sudah dilakukan oleh masyarakat misalnya Festival Merapi, Festival Lima Gunung di Jawa Tengah. Pada dua festival itu berkembang kesenian Topeng Ireng di beberapa kota sekitarnya. Di Lembang dekat Bandung para petani tomat mengadakan Festival Perang Tomat. Masyarakat kota Kutai Kartanegara menyelenggarakan Festival Lampion. Kota wisata Batu menyelenggarakan Festival Bantengan, serta kota-kota lain yang menyelenggarakan festival sejenis.

Para desainer dan pengusaha industri kriya dan desain dapat menciptakan desain-desain baru yang diminati pasar. Sumber gagasan untuk penciptaan atau pengembangan desain baru dapat diambil dari sumber budaya lokal dan budaya global. Istilah-istilah yang biasa digunakan oleh para praktisi desain misalnya dengan redesain, revitalisasi, diversifikasi, diferensi, hibridisasi, creolisasi dan sebagainya. Kesimpulan dari berbagai istilah itu adalah mengembangkan desain yang tidak perlu dibebani dengan pesan-pesan yang klasik seperti “pelestarian budaya”, “menjaga keaslian budaya”, “membendung pengaruh asing”, “melindungi pengrajin tradisional” dan sebagainya.

Wisatawan Barat masih menghendaki jenis pariwisata yang memberi mereka pengalaman yang  eksotik atau “an exotic experience”, yaitu sebuah pengalaman yang tidak didapatkan di negara mereka dan hanya ada di dunia ke tiga. Menurut pandangan orientalis, istilah eksotik ini berkonotasi merendahkan yaitu suatu keadaan yang masih asli dan otentik dari masyarakat non-Barat. Kita tidak perlu memperdebatkan konotasi eksotik itu, lebih baik hasrat eksotik wisatawan Barat itu kita manfaatkan dengan mengembangkan berbagai atraksi wisata, souvenir, kuliner, busana, hotel dan fasilitas lain yang bernuansa eksotik dengan kualitas bahan, teknik, dan pelayanan yang standar internasional.

Tiap kota yang memiliki sentra industri kreatif seperti misalnya Kampung Batik Laweyan, Keramik Kasongan, Kampung Lampion Malang dan sebagainya. Bahkan kampung-kampung kumuh di Jakarta akhir-akhir ini menarik  minat wisatawan mancanegara. Wisata kreatif yakni di mana wisatawan yang berkunjung tidak hanya sekedar memahami, tetapi mereka mencoba untuk mempelajari budaya setempat lebih dalam yang kemudian mengembangkannya. Kemudian wisatawan menjadi bagian dari manusia kreatif yang dapat berkolaborasi dengan budaya setempat.(Suara Merdeka, 29 Des 2011)

Hibridisasi dalam Seni Rupa Kontemporer

Dalam konteks seni rupa, perbincangan seputar hibridisasi diawali pada praktik seni rupa kontemporer di Indonesia terutama ketika dimulai dengan perdebatan pos-modern pada tahun 1990-an. Posmodernisme merupakan gejala budaya di mana segala bentuk seni dan budaya berbaur dan bercampur, hingga pemikiran-pemikiran lokal dan tradisional terakomodasikan lewat ungkapan-ungkapan seni. Hibridisasi dalam seni rupa kontemporer, bukan saja berangkat dari pembauran medium dan budaya, tetapi juga bagaimana konstruksi pikiran dan bahasa rupa atau tanda-tanda yang telah bersilang dengan beragam jaman dan praktik-praktik sosial lainnya.( Rifky Effendy, 2009)

Sejak tahun 1970-an hubungan seni dengan sains dan teknologi sudah menjadi bahan perdebatan di kalangan perupa. Perdebatan ini berpangkal pada kesamaan dalam kreativitas dan perbedaan dalam metode. Seni, sains, dan teknologi memiliki kesamaan sebagai media kreativitas, sedangkan yang membedakan hanyalah metodenya. Keberbedaan kemudian menyurut, mengiringi aktifitas saling mengdopsi dan hibridisasi.( Krisna Murti, 2012, al.7) Hibridisasi dapat dikategorikan sebagai pendekatan interdisipliner dalam penciptaan karya seni rupa. Pendekatan ini bisa menggabungkan berbagai media, teknik, dan wacana dalam satu karya.

Seni rupa kontemporer menjunjung tinggi prinsip pluralisme di mana kedudukan setiap media (lukis, patung, grafis, kriya, desain) dianggap sama tanpa adanya dikriminasi. Jika sebelumnya terdapat sistem hirarki yang tercermin dalam oposisi biner misalnya seni murni dengan seni terapan, kriya dengan desain, seni lukis dengan gambar, dan sebagainya, maka sekarang hirarki tersebut sudah runtuh. Seni kriya dan desain yang dulu dianggap bukan seni murni saat ini memiliki kedudukan yang setara dengan seni murni.

Seni rupa kontemporer yang menganut paham pluralisme juga memberi peluang kepada para perupa untuk mengawinsilangkan berbagai kemungkinan seperti bentuk visual, media visual, teknik visual, bahan, dan sebagainya. Contoh klasik penggunaan strategi hibridisasi dalam sejarah seni rupa kontemporer Indonesia adalah karya Jim Supangkat “Ken Dedes” yang menggabungkan seni patung dengan gambar. Hibrida antara binatang dengan manusia bisa kita lihat pada karya Heri Dono. Heri Dono juga sering menggambarkan tokoh-tokoh superhero Amerika dengan gaya visual wayang. Sigit Santosa menerapkan hibridisasi dengan menggabungkan tubuhnya dengan kulit sapi dan peta Indonesia. Agapetus menggabungkan tubuh sapi dengan peta Indonesia. Rennie Emonk menggabungkan bentuk alat vital laki-laki dengan berbagai figur tokoh seperti Michael Jackson, Loro Blonyo, dan sebagainya.

Dalam tulisan kuratorial pada pameran Jakarta Contemporary Ceramic Biennale 2009 In Between Space of Contemporary Art, Rifky Effendy (2009, al.1) menyatakan sebagai berikut:

Perkembangan seni rupa kontemporer di wilayah Asia terutama Asia Tenggara, akhir-akhir ini menunjukkan suatu gestur yang dinamis. Beriringan dengan gejala ekonomi, sosial-politik, dan budaya masyarakat di wilayah ini, perwajahan seni rupa telah mengalami evolusi yang signifikan, setidaknya sejak awal dekade 2000-an. Globalisasi merupakan suatu kenyataan yang mendorong perubahan-perubahan dalam perilaku artistik dan cara pandang para seniman. Perubahan paradigma dalam memandang sebuah praktik seni rupa tidak lagi berpijak pada keyakinan –keyakinan maupun pemahaman tunggal. Seringkali perubahan-perubahan ini pun menyisihkan atau melemahkan banyak kelompok – kelompok yang tadinya dianggap mapan dan teguh terhadap sebuah ideologi estetik. Tapi disisi lainnya, muncul kesempatan bagi yang tersisihkan atau termarjinalkan sebelumnya, untuk kembali mengisi ruang-ruang kehidupan budaya. Mungkin inilah berkah dari jaman pasca-modern, memecah sesuatu dominasi yang telah menjadi menara gading. Mendesentralisasi pusat yang tunggal menjadi pusat-pusat yang majemuk.

Kutipan di atas menunjukkan bahwa paradigma pluralisme telah meresap dalam praktik seni rupa kontemporer Indonesia. Seni keramik yang selama ini dianggap marjinal, kini dapat tampil setara dengan cabang seni lain dengan menyandang istilah “kontemporer” dalam bienal seni keramik yang diselenggarakan tiap dua tahun. Seni keramik sekarang bisa menjadi media visual untuk mengkomunikasikan berbagai wacana sosial-budaya seperti yang dilakukan oleh media yang lain.

\